Banyaknya bencana alam, tidak bisa dipungkiri ulah dari sebagian manusia dan adalah Irwan Parawansa salah satu figur yang pantas atas perhatiannya terhadap lingkungan, sebagai bukti 14 tahun menyandang pembina Kalpataru di SMANSA Makassar. jika mau jujur seharusnya dia di upayakan agar pemkot memberikan penghargaan. Alasannya sederhana, beberapa kali membawa angkatan kalpataru ikut event yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Irwan maju terus setia terus terhadap alam. Tabe.
Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 11 Agustus 2012
Pemerhati Lingkungan Dari Timur
*Kutipan SKU Maros Pos
Banyaknya bencana alam, tidak bisa dipungkiri ulah dari sebagian manusia dan adalah Irwan Parawansa salah satu figur yang pantas atas perhatiannya terhadap lingkungan, sebagai bukti 14 tahun menyandang pembina Kalpataru di SMANSA Makassar. jika mau jujur seharusnya dia di upayakan agar pemkot memberikan penghargaan. Alasannya sederhana, beberapa kali membawa angkatan kalpataru ikut event yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Irwan maju terus setia terus terhadap alam. Tabe.
Banyaknya bencana alam, tidak bisa dipungkiri ulah dari sebagian manusia dan adalah Irwan Parawansa salah satu figur yang pantas atas perhatiannya terhadap lingkungan, sebagai bukti 14 tahun menyandang pembina Kalpataru di SMANSA Makassar. jika mau jujur seharusnya dia di upayakan agar pemkot memberikan penghargaan. Alasannya sederhana, beberapa kali membawa angkatan kalpataru ikut event yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Irwan maju terus setia terus terhadap alam. Tabe.
Diposting oleh
Drs. Irwan Parawansa
di
06.22
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
About Me
Irwan Parawansa di Imangkawani
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) bakal kedatangan tamu. I Mangkawani akan dipentaskan di sana pada 22 dan 23 Juni. Pementasan drama klasik Bugis ini ditampilkan sebagai salah satu sajian pertunjukan dalam Jakarta Anniversary Festival VII 2009 yang berlangsung 3 Juni hingga 4 Juli dalam rangkaian merayakan ulang tahun ke-482 Kota Jakarta.
Pementasan drama ini disutradrai sendiri oleh penulis naskahnya AM Mochtar didukung sederet aktor senior seperti Asia Ramli Prapanca, Abdul Rodjak, Syahriar Tato, Rudhy Farooc, Aliem Prasastie, Djamal Dilaga, Rahman Labaranjangi, Uchi Harjani, Rini Mustakim, Jayadi Haruna, Irwanto Danumulyo, dan Irwan Parawansa.
Drama yang diangkat dari kisah Toloq Pessena We Sangiang I Mangkawani (Uleng LolollabuEdE) tersebut berkisah tentang cinta sejati dua sejoli yang terhadang adat yang kokoh. Dikisahkan We Sangiang I Mangkawani, putri mahkota Raja Bone Petta MangkauE yang dijodohkan dengan La Paelori, putra Raja Luwu Datu MappajungE, sejak masa kanak-kanak.
Semasa kecil hingga remaja, I Mangkawani dan kakak laki-lakinya La TonrawaliE berteman karib dengan La Fadomai, putra Karaeng Tanabatu dari Wawobulu. Dalam perjalanan menuju dewasa, tumbuh jalinan cinta di antara I Mangkawani dan La Fadomai.
Ketika utusan Raja Luwu datang untuk menetapkan hari perkawinan antara I Mangkawani dan La Paelori, I Mangkawani telah pergi meninggalkan istana bersama La Fadomai. Demi perjanjian kedua raja yang dimahkotai adat itu, La Fadomai harus mati di tangan sahabatnya La TonrawaliE yang juga kakak dari I Mangkawani. Sepeninggal La Fadomai, I Mangkawani pun menghabisi nyawanya demi cintanya pada sang kekasih.
Pementasan drama hasil kerja sama Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, dan GKJ ini diperkuat oleh musisi Basri B Sila dan Abdi Bashit yang ikut mendukung musik pentas teater keliling dunia I La Galigo arahan sutradara Amerika Robert Wilson.
Pementasan drama ini disutradrai sendiri oleh penulis naskahnya AM Mochtar didukung sederet aktor senior seperti Asia Ramli Prapanca, Abdul Rodjak, Syahriar Tato, Rudhy Farooc, Aliem Prasastie, Djamal Dilaga, Rahman Labaranjangi, Uchi Harjani, Rini Mustakim, Jayadi Haruna, Irwanto Danumulyo, dan Irwan Parawansa.
Drama yang diangkat dari kisah Toloq Pessena We Sangiang I Mangkawani (Uleng LolollabuEdE) tersebut berkisah tentang cinta sejati dua sejoli yang terhadang adat yang kokoh. Dikisahkan We Sangiang I Mangkawani, putri mahkota Raja Bone Petta MangkauE yang dijodohkan dengan La Paelori, putra Raja Luwu Datu MappajungE, sejak masa kanak-kanak.
Semasa kecil hingga remaja, I Mangkawani dan kakak laki-lakinya La TonrawaliE berteman karib dengan La Fadomai, putra Karaeng Tanabatu dari Wawobulu. Dalam perjalanan menuju dewasa, tumbuh jalinan cinta di antara I Mangkawani dan La Fadomai.
Ketika utusan Raja Luwu datang untuk menetapkan hari perkawinan antara I Mangkawani dan La Paelori, I Mangkawani telah pergi meninggalkan istana bersama La Fadomai. Demi perjanjian kedua raja yang dimahkotai adat itu, La Fadomai harus mati di tangan sahabatnya La TonrawaliE yang juga kakak dari I Mangkawani. Sepeninggal La Fadomai, I Mangkawani pun menghabisi nyawanya demi cintanya pada sang kekasih.
Pementasan drama hasil kerja sama Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, dan GKJ ini diperkuat oleh musisi Basri B Sila dan Abdi Bashit yang ikut mendukung musik pentas teater keliling dunia I La Galigo arahan sutradara Amerika Robert Wilson.
Diposting oleh
Drs. Irwan Parawansa
di
06.21
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
About Me
About Me : Nama dan Pengalaman
Drs. Irwan Aprianto Parawansa, Wakil Rakyat. Menjadi Wakil Rakyat di Lembaga Legislatif memang tidaklah mudah, teristimewa kalau bersangkutan menyadari betul amanah yang dipercayakan rakyat kepadanya selama lima tahun. Pengalaman itulah yang pernah dijalani pria yang bertubuh subur yang kini berprofesi paling mulia sebagai seorang guru di SMA Negeri I Makassar. Hanya waktunya singkat, tidak lebih dari dua jam. Apa pasal ? Apakah karena dia terlalu vokal berbicara hingga direcall ?. Ternyata memang jabatan itu cukup dua jam saja karena ternyata peran itu hanya dimainkan di atas panggung dalam sebuah drama Sayidina Ali yang diproduksi Studi Teater Tambora.Masih dalam kaitan pengalaman diatas Irwan Aprianto Parawansa cepat akrab dengan lawan bicaranya, sempat membuat terperangah kawan-kawan karibnya. Pasalnya, sejak "pensiun" diatas pentas dia jarang bertemu lagi dan menghilang begitu saja tanpa diketahui dimana rimbanya. Yang ternyata kesibukannya selain mengajar kini sebagai pembina kalpataru SMA Negeri I Makassar.
Ketika ditanya soal dunia teater, pria kelahiran 16 April ini menjawab bahwa dirinya tetap memberi perhatian pada dunia pentas, bahkan kini sangat ingin kembali berkumpul dengan kawan-kawannya untuk berteater.
Diposting oleh
Drs. Irwan Parawansa
di
06.21
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
About Me

